Surakarta, 11 Desember 2025 – Mahasiswa Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) sukses menyelenggarakan kegiatan lapangan dalam mata kuliah “Kuliah Kerja Lapangan 1” dengan judul “Pengenalan Bentang Lahan dan Bentang Budaya.” Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 4 hingga 10 November 2025 dan memberikan pengalaman praktis yang mendalam mengenai bentang lahan dan bentang budaya di Indonesia khususnya Jawa Tengah, DIY, dan Pulau Karimunjawa.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa angkatan 2024 dan didampingi oleh dosen-dosen Pendidikan Geografi UNS. Pengalaman lapangan ini dirancang untuk memperkenalkan mahasiswa pada berbagai fenomena geografi, termasuk geologi, ekosistem, dan budaya di sepanjang perjalanan mereka.

Selama enam hari kegiatan lapangan, peserta mengunjungi 19 stop site yang menjadi fokus kajian. Berikut adalah rincian dari setiap lokasi yang dikunjungi:

  1. Bukit Tenong di Wonogiri – Mahasiswa menganalisis formasi geologi dan pola pemanfaatan lahan di daerah perbukitan ini.
  2. Museum Kars Wonogiri – Di sini, mereka mempelajari pentingnya kawasan kars dalam kajian geologi dan kebudayaan lokal.
  3. Geopark Ngingrong – Kajian di geopark ini menekankan pada pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.
  4. Kajian Oceanografi Pantai Parangkusumo dan Sand Dune Parangtritis – Mahasiswa mempelajari interaksi antara laut dan daratan, serta proses pembentukan gumuk pasir.
  5. Tempuran Sungai Opak dan Sungai Oyo – Kajian Sungai Opak Oyo menekankan pada fenomena hidrologi di sungai Opak dan Sungai Oyo.
  6. Rawa Pening – Rawa Pening merupakan lokasi kajian untuk memahami bentang lahan alluvial dan kajian pariwisata.
  7. Kajian Sayung – Mahasiswa melakukan observasi terhadap karakteristik bentang lahan pesisir dan dampak perubahan iklim.
  8. Bendung Gerak – Mahasiswa mengkaji fenomena rekayasa manusia dalam mengelola sumber daya air
  9. Pantai Bandengan – Mahasiswa mengkaji fenomena marine di pantai utara jawa
  10. Kajian Mangrove di Taman Nasional Karimunjawa – Pada lokasi ini, mahasiswa belajar tentang ekosistem mangrove dan perannya dalam menjaga kestabilan lingkungan pesisir.
  11. Kajian Bukit Cinta Karimunjawa – Mahasiswa menganalisis panorama alam dan pengaruhnya terhadap kebudayaan setempat.
  12. Terumbu Karang Karimunjawa – Pada lokasi ini, mahasiswa belajar tentang ekosistem   terumbu karang di Karimunjawa.
  13. Tanjung Gelam – Mahasiswa mengidentifikasi fenomena geologi di pantai tanjung gelam.
  14. Museum Jenang – Mahasiswa memahami budaya lokal dan peran ekonomi dari produk jenang yang menjadi salah satu identitas Kudus.
  15. Masjid Al-Aqsha Kudus – Observasi dilakukan untuk mendalami arsitektur lokal dan pengaruh budaya Islam di daerah tersebut.
  16. Simpang 7 Kudus – Di sini, peserta mengkaji aspek pemanfaatan ruang dan dinamika sosial ekonomi masyarakat setempat.
  17. Karst Sukolilo Pati – Mahasiswa mempelajari area karst dan potensi pariwisata yang ada di kawasan ini.
  18. Tambak Garam Desa Jono – Lokasi ini memberikan wawasan mengenai industri garam tradisional dengan karakteristik unik yang berada di Kawasan daratan.
  19. Sangiran – Di situs prasejarah ini, mahasiswa belajar tentang bukit dengan fosil molusca pada layer horizon.

 

 

Setiap lokasi dijadikan sebagai ruang diskusi dan kajian, memungkinkan mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan fenomena geografi dan budaya yang mereka pelajari.

Dengan kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata dalam studi geografi. Selain itu, diharapkan kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya konservasi dan pemanfaatan bentang lahan serta budaya yang ada di Indonesia.