
Surakarta, 15 Maret 2025 – Mahasiswa Program Studi Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret yang tergabung dalam Tim Hibah MBKM UNS Membangun Desa 2025 melaksanakan program edukatif SIGAP “ Sinergi Generasi Peduli Bencana “ di Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen.
Program SIGAP ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Spatial Thinking pada siswa SD dan SMP sekaligus membentuk kesadaran dini akan mitigasi bencana. Kegiatan ini dilaksanakan di bawah arahan Dr. Singgih Prihadi, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Geografi FKIP UNS.
Kegiatan SIGAP berlangsung pada tanggal 15, 17 hingga 19 Maret 2025, menyasar tiga sekolah dasar dan satu sekolah menengah di Desa Jambeyan. SMP N 3 Satu Atap Sambirejo menjadi lokasi pertama pelaksanaan kegiatan pada 15 Maret 2025, disusul SD Negeri Jambeyan 3 dan pada 17 Maret 2025, SD Negeri Jambeyan 2 pada 18 Maret 2025, dan ditutup di SD Negeri Jambeyan 1 pada 19 Maret 2025.
Ketua Tim Hibah MBKM UNS Membangun Desa 2025 Desa Jambeyan, Risam Kastamsa, menyampaikan, “ Pada tahap yang paling sederhana kegiatan ini dilaksanakan supaya siswa memiliki kemampuan berpikir keruangan. Lebih lanjut harapannya siswa dapat memahami kondisi geografis di sekitar mereka dan mengetahui dasar mitigasi terhadap ancaman bencana yang mungkin terjadi.”
Selama kegiatan, siswa diperkenalkan pada konsep dasar peta, komponen-komponennya, serta pemanfaatan peta untuk memahami lingkungan sekitar. Kegiatan dilakukan secara interaktif melalui ceramah, diskusi kelompok, hingga praktik langsung mendeliniasi peta penggunaaan lahan Desa Jambeyan menggunakan kertas kalkir dan pensil warna.
“ Pengalaman yang luar biasa bagi peserta didik bisa belajar peta sambil mewarnai. Mengasah kemampuan mereka dalam mengenali lingkungan sekitar, ” ungkap Kepala Sekolah SD Negeri Jambeyan 2. Hasil praktik kelompok kemudian dipresentasikan oleh perwakilan siswa sebagai benyuk refleksi dan evaluasi dari materi yang telah mereka pelajari. Selain menumbuhkan rasa ingin tahu, kegiatan ini juga mendorong siswa untuk lebih peka terhadap kondisi geografis lingkungan mereka, terutama yang berkaitan dengan potensi bencana seperti tanah longsor yang menjadi ancaman utama di wilayah tersebut.